Menjaga Bhineka di Komplek Perumahan Harmoni: Kisah Tetangga yang Menjalin Persatuan
Disusun Oleh:
Aurel Irza Safira
46125010114
Judul:
Menjaga Bhineka di Komplek Perumahan Paradiso: Kisah Tetangga yang Menjalin Persatuan.
Lokasi Observasi:
Komplek Perumahan Paradiso, Kelurahan Lebak Wangi, Kabupaten Tangerang.
A. Pendahuluan
Saya memilih Komplek Perumahan Paradiso sebagai lokasi observasi karena area ini mencerminkan kehidupan sehari-hari warga dari beragam latar belakang, seperti suku Jawa, Sunda, dan Bugis, serta agama Islam, Kristen, dan Hindu, dengan status sosial yang bervariasi dari pekerja swasta hingga pedagang kecil. Di tengah maraknya isu polarisasi nasional melalui media sosial, saya ingin mengamati bagaimana interaksi di lingkungan ini merealisasikan konsep integrasi nasional seperti "Bhineka Tunggal Ika". Tujuan observasi ini adalah untuk mengidentifikasi elemen yang memperkuat persatuan serta potensi konflik, dan menghubungkannya dengan teori integrasi nasional untuk memahami peran komunitas lokal dalam menjaga kerukunan.
B. Temuan Observasi
Selama observasi kurang lebih 1 minggu di komplek ini, saya memperhatikan berbagai interaksi antarwarga, baik secara langsung di sekitar rumah maupun melalui grup WhatsApp warga. Contoh positif yang mencolok adalah kegiatan arisan bulanan yang melibatkan semua warga, di mana mereka saling berbagi makanan dan cerita dari budaya masing-masing. Misalnya, Pak Ahmad (Muslim) dan Bu Maria (Kristen) sering bekerja sama mengatur acara, seperti membersihkan taman bersama setiap akhir pekan, yang memperlihatkan rasa saling menghormati dan kerjasama tanpa memandang perbedaan. Selain itu, saat perayaan Idul Fitri atau Natal, warga saling mengundang untuk berbagi makanan, dan ada tradisi memasang spanduk kebangsaan seperti "Hari Kemerdekaan" di pintu masuk komplek, yang menjadi simbol pemersatu dan mempererat rasa kebersamaan.
Di sisi negatif, saya menemukan beberapa potensi konflik yang mengancam persatuan. Di grup WhatsApp warga, ada komentar yang menyentuh isu SARA, seperti perdebatan ringan tentang perbedaan keyakinan terkait acara lingkungan, yang hampir menimbulkan ketegangan. Selain itu, anak-anak remaja cenderung membentuk kelompok bermain berdasarkan suku, seperti kelompok Sunda yang jarang berbaur dengan kelompok Jawa, yang bisa mengikis rasa inklusivitas. Observasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya positif, faktor eksternal seperti pengaruh media sosial sering memicu ketegangan di tingkat komunitas.
C. Analisis
Temuan observasi ini dapat dikaitkan dengan teori integrasi nasional, seperti konsep integrasi horizontal dari Myron Weiner, yang menekankan pentingnya interaksi rutin untuk membangun persatuan. Praktik positif seperti arisan dan kerja bakti bersama memperlihatkan bagaimana kegiatan kolektif dapat menjadi pemersatu, karena menciptakan ikatan emosional dan saling ketergantungan di antara warga. Hal ini efektif dalam memperkuat rasa nasionalisme, di mana simbol-simbol kebangsaan seperti spanduk Hari Kemerdekaan berfungsi sebagai pengingat nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong.
Sementara itu, potensi konflik seperti komentar di grup WhatsApp mengindikasikan akar masalah dari faktor komunikasi dan polarisasi sosial, sebagaimana dijelaskan dalam laporan LIPI (2020). Ketegangan ini mungkin dipicu oleh perbedaan ekonomi atau pengaruh politik eksternal, yang memperburuk persepsi kelompok. Analisis lebih dalam menunjukkan bahwa tanpa intervensi, seperti peningkatan kesadaran komunikasi, konflik ini bisa melemahkan integrasi nasional di tingkat lokal, di mana kedekatan fisik seharusnya menjadi aset untuk membangun toleransi.
D. Refleksi Diri & Pembelajaran
Dari observasi ini, saya belajar bahwa saya sering kali terlalu sibuk dengan rutinitas harian dan kurang aktif dalam interaksi komunitas, sehingga saya menjadi "pengamat dari jauh" daripada peserta aktif. Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa lingkungan sekitar rumah penuh dengan pelajaran tentang keragaman, dan saya perlu lebih terlibat untuk memahami dinamikanya. Sebagai generasi muda, peran saya adalah menjadi penghubung, misalnya dengan menginisiasi acara komunitas seperti pertemuan remaja lintas suku atau membuat poster edukasi tentang toleransi di komplek. Saya juga belajar bahwa dengan kemampuan saya dalam teknologi, saya bisa membantu memoderasi grup WhatsApp warga untuk mencegah konflik.
E. Kesimpulan & Rekomendasi
- Saran: Secara keseluruhan, observasi ini mengungkapkan bahwa integrasi nasional dimulai dari lingkungan terkecil seperti komplek perumahan, di mana praktik harian dapat memperkuat persatuan jika dikelola dengan baik.
- Rekomendasi:
- Adakan "Acara Kopi Darat" rutin di komplek untuk membahas isu keragaman dengan cara damai.
- Membuat aturan sederhana di grup WhatsApp warga untuk melarang komentar SARA, sehingga warga bisa lebih saling menghormati dan memperkuat rasa kebersamaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar