Kamis, 25 September 2025

Refleksi kebangsaan: Menyatu dalam Perbedaan di Dunia Kampus.

Nama: Aurel Irza Safira_E42 


Abstrak 

Artikel ini merupakan narasi reflektif pribadi tentang penerapan nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa di lingkungan kampus yang multikultural. Fokus utama adalah bagaimana prinsip Bhinneka Tunggal Ika, sebagai salah satu pilar Pancasila, menjadi fondasi untuk menyatukan perbedaan budaya, agama, dan etnis di tengah tantangan globalisasi. Melalui pengalaman pribadi, saya merefleksikan bagaimana interaksi sosial di kampus memperkuat rasa persatuan dan toleransi. Permasalahan yang dibahas mencakup potensi konflik akibat perbedaan, sementara pembahasan menyoroti strategi adaptasi nilai kebangsaan. Kesimpulan menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis nasionalisme, dengan saran untuk meningkatkan kegiatan kampus yang inklusif.

Kata Kunci

Nilai kebangsaan, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, keberagaman kampus, refleksi pribadi, toleransi, persatuan.


Pendahuluan

Sebagai seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Indonesia, kehidupan kampus menjadi wadah utama bagi saya untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai kebangsaan. Nilai kebangsaan, yang tertanam dalam Pancasila sebagai dasar negara, bukan hanya konsep abstrak, melainkan panduan hidup yang relevan di era digital dan globalisasi saat ini. Pancasila, dengan sila kelima yang menekankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, serta moto Bhinneka Tunggal Ika yang melambangkan persatuan dalam keberagaman, menjadi inspirasi bagi saya untuk merefleksikan pengalaman pribadi.

Dalam konteks kampus, di mana mahasiswa berasal dari berbagai latar belakang seperti suku Jawa, Batak, Papua, hingga minoritas etnis lainnya. Keberagaman ini justru menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Pengalaman saya selama tiga semester kuliah telah membuka mata saya akan pentingnya nilai kebangsaan sebagai "lem" yang menyatukan perbedaan. Artikel reflektif ini, sebagai bagian awal portofolio sikap saya, bertujuan untuk menggambarkan bagaimana nilai-nilai tersebut terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari interaksi kelas hingga kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, refleksi ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga berkontribusi pada pemahaman kolektif tentang nasionalisme di kalangan generasi muda. 


Permasalahan

Di dunia kampus yang dinamis, perbedaan sering kali muncul sebagai permasalahan utama yang menguji ketahanan nilai kebangsaan. Seperti terdapat di suatu kelompok, ada mahasiswa dari Sulawesi yang berlatar belakang Kristen, sementara teman nya yang lain berasal dari keluarga Muslim Jawa, Awalnya, perbedaan pandangan tentang isu lingkungan seperti konflik antara tradisi adat dan modernisasi menimbulkan ketegangan. Beberapa anggota kelompok bahkan saling menyalahkan, yang hampir merusak kolaborasi mereka.

Permasalahan ini mencerminkan isu yang lebih luas di kampus: potensi konflik horizontal akibat keberagaman. Menurut Materi Pembelajaran 1 (Pancasila sebagai Ideologi Negara, 2023), nilai kebangsaan seperti gotong royong dan toleransi sering terabaikan di tengah tekanan akademik dan pengaruh media sosial yang mempolarisasi opini. Di kampus, di mana mahasiswa dari 34 provinsi berkumpul, perbedaan agama, suku, dan ekonomi bisa memicu diskriminasi halus, seperti stereotip etnis atau penolakan terhadap budaya minoritas. Pandemi COVID-19 memperburuk situasi ini, dengan isolasi yang membuat interaksi tatap muka berkurang, sehingga rasa persatuan tergerus. Bagi saya, permasalahan ini menjadi titik refleksi: bagaimana nilai kebangsaan bisa menjadi solusi untuk membangun harmoni di tengah perbedaan yang semakin kompleks? 


Pembahasan

Refleksi saya tentang nilai kebangsaan dimulai dari pemahaman bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan praktik harian. Dalam Materi Pembelajaran 1, dijelaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika berasal dari kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14, yang menekankan persatuan meski berbeda keyakinan. Prinsip ini saya terapkan dalam kehidupan kampus melalui berbagai pengalaman.

Pertama, interaksi sosial menjadi ujian nyata. Saat ikut organisasi mahasiswa seperti UKM Seni Budaya, saya berkolaborasi dengan teman dari Papua untuk mempersiapkan pentas seni. Awalnya, perbedaan gaya tari tradisional Papua yang energik versus Jawa yang halus menimbulkan perdebatan. Namun, dengan menerapkan sila kedua Pancasila tentang kemanusiaan yang adil dan beradab, kami belajar saling menghargai. Hasilnya, pertunjukan kami sukses dan memperkuat ikatan persahabatan. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa nilai kebangsaan seperti toleransi bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan untuk inovasi.

Kedua, di kelas daring selama pandemi, saya aktif dalam forum diskusi tentang isu nasional. Saat membahas konflik di Papua, pandangan berbeda muncul: beberapa teman melihatnya sebagai isu politik, sementara yang lain dari perspektif budaya. Saya merefleksikan sila pertama Pancasila tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mendorong dialog inklusif. Dengan berbagi cerita pribadi tentang kunjungan ke museum sejarah, saya berhasil meredakan ketegangan dan membangun pemahaman bersama. Ini sejalan dengan temuan Anderson (1991) dalam Imagined Communities, yang menyatakan bahwa nasionalisme modern dibangun melalui narasi bersama di ruang publik seperti kampus.

Ketiga, kegiatan kemahasiswaan seperti Hari Kemerdekaan menjadi momen reflektif. Saya terlibat dalam lomba pidato tentang Pancasila, di mana saya berbicara tentang bagaimana keberagaman kampus mencerminkan Indonesia mini. Meski ada kritik dari peserta lain yang merasa pidato saya terlalu idealis, interaksi pasca-acara justru memperdalam apresiasi terhadap perbedaan. Seperti yang dikemukakan oleh Magnis-Suseno (2001) dalam Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, etika kebangsaan mengharuskan kita untuk "menyatu dalam perbedaan" melalui empati dan tanggung jawab sosial.

Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa nilai kebangsaan telah membentuk sikap saya: dari mahasiswa yang awalnya ragu menjadi individu yang proaktif dalam mempromosikan persatuan. Di dunia kampus, perbedaan bukan penghalang, melainkan peluang untuk memperkaya identitas nasional.


Kesimpulan dan Saran

Dari refleksi ini, saya menyimpulkan bahwa nilai kebangsaan, khususnya Bhinneka Tunggal Ika, menjadi kunci untuk menyatu dalam perbedaan di dunia kampus. Pengalaman pribadi saya membuktikan bahwa Pancasila bukan hanya warisan leluhur, melainkan alat hidup untuk mengatasi tantangan multikultural. Dengan menerapkannya, saya merasa lebih percaya diri dan berkontribusi pada masyarakat yang harmonis.

Sebagai saran, kampus sebaiknya meningkatkan program pendidikan karakter berbasis nilai kebangsaan, seperti workshop toleransi antar-etnis dan integrasi mata kuliah Pancasila dalam kurikulum. Selain itu, mahasiswa diharapkan lebih aktif dalam kegiatan lintas budaya untuk memperkuat rasa persatuan. Dengan demikian, generasi muda dapat menjadi penerus bangsa yang tangguh. 


Daftar Pustaka

1. Materi Pembelajaran 1. (2023). Pancasila sebagai Ideologi Negara. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. 

2. Anderson, B. (1991). Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Verso Books.

3. Magnis-Suseno, F. (2001). Etika Dasar: Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral. Gramedia Pustaka Utama.

4. Notosusanto, N. (Ed.). (1985). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno hingga Kolonial. Balai Pustaka. 

Jurnal Refleksi Pribadi: Sikap sebagai Warga Negara di Lingkungan Kampus

Mata Kuliah: Pendidikan Kewarganegaraan 

Topik Refleksi: Sikap sebagai Warga Negara dalam Konteks Kampus

Nama: Aurel Irza Safira   

NIM:  46125010114

Program Studi:Psikologi  

Tanggal: 25 September 2025


1. 🧠 Pemahaman Konsep  

Kewarganegaraan aktif dan bertanggung jawab bagi saya berarti menjadi bagian dari masyarakat yang tidak hanya menikmati hak-haknya, tetapi juga secara proaktif menjalankan kewajiban untuk membangun lingkungan yang harmonis dan adil. Di konteks kampus, menjadi warga negara yang baik artinya berperilaku sebagai anggota komunitas akademik yang mendukung nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab sosial. Misalnya, ini mencakup partisipasi dalam kegiatan kampus untuk memperkuat persatuan, menghormati perbedaan teman sejawat, dan berkontribusi pada isu-isu nasional tanpa merugikan orang lain. Konsep ini terinspirasi dari Pancasila sebagai dasar negara, di mana kita belajar bahwa kewarganegaraan bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan sikap etis yang membentuk karakter bangsa.


2. 🧍‍♂️ Pengalaman Pribadi  

Salah satu pengalaman pribadi saya yang mencerminkan sikap sebagai warga negara adalah ketika saya bergabung dengan organisasi kemahasiswaan UKM Seni Budaya di kampus. Pada acara Hari Kemerdekaan,  saya terlibat dalam persiapan pentas seni yang melibatkan mahasiswa dari berbagai suku, seperti Jawa, Batak, dan Papua. Saya bertanggung jawab atas koordinasi kelompok, di mana kami harus menyatukan elemen budaya berbeda dalam satu pertunjukan. Awalnya, ada tantangan karena perbedaan gaya, tapi saya mendorong diskusi etis untuk menyuarakan pendapat masing-masing tanpa saling menyerang. Selain itu, saya juga aktif dalam kampanye toleransi antar-agama melalui forum diskusi, di mana saya berbagi cerita tentang pengalaman berpuasa Ramadhan bersama teman non-Muslim, yang memperkuat rasa saling menghargai. Pengalaman ini membuat saya merasa bangga sebagai bagian dari Indonesia mini di kampus.


3. 💬 Refleksi Nilai  

Dalam kehidupan kampus, nilai-nilai kewarganegaraan yang paling relevan bagi saya adalah toleransi, tanggung jawab sosial, dan cinta tanah air. Toleransi sangat terasa saat berinteraksi dengan teman dari latar belakang berbeda, di mana Pancasila mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi persatuan. Tanggung jawab sosial tercermin dalam kegiatan seperti gotong royong membersihkan kampus atau kampanye lingkungan, yang mengingatkan saya pada sila kelima tentang keadilan sosial. Sementara itu, cinta tanah air muncul melalui apresiasi terhadap sejarah nasional dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, yang mendorong saya untuk lebih peduli pada isu-isu seperti konflik etnis atau pelestarian budaya. Nilai-nilai ini bukan hanya teori, tapi panduan praktis yang membuat kampus menjadi ruang aman untuk belajar dan berkembang bersama.


4. 🔍 Evaluasi Diri  

Secara keseluruhan, saya menilai sikap dan perilaku saya sebagai warga kampus sudah cukup baik, terutama dalam hal toleransi dan partisipasi organisasi, di mana saya sering menjadi fasilitator diskusi untuk menghindari konflik. Misalnya, saya konsisten menghadiri kegiatan kemahasiswaan dan selalu berusaha mendengarkan pendapat orang lain sebelum menyuarakan milik saya. Namun, ada yang perlu diperbaiki: saya kurang aktif dalam kampanye sosial di luar kampus, seperti aksi lingkungan atau dukungan untuk isu hak asasi manusia, karena terlalu fokus pada tugas akademik. Kadang-kadang, saya juga masih ragu untuk menyuarakan pendapat kritis terhadap kebijakan kampus yang tidak adil, karena takut dianggap konfrontatif. Evaluasi ini membuat saya sadar bahwa kewarganegaraan aktif memerlukan keseimbangan antara kenyamanan pribadi dan kontribusi kolektif.


5. 🎯 Komitmen Ke Depan  

Saya berkomitmen untuk menjadi warga negara yang lebih aktif dan beretika di lingkungan kampus dengan bergabung dalam setidaknya satu kampanye sosial per semester, seperti program literasi kebangsaan atau kegiatan gotong royong antar-fakultas. Selain itu, saya akan melatih diri untuk lebih berani menyuarakan pendapat secara konstruktif melalui workshop kepemimpinan, sambil terus menjaga toleransi dengan teman-teman. Komitmen ini saya tulis sebagai pengingat, Saya akan lebih aktif dalam kegiatan sosial kampus yang mendorong nilai kebangsaan, seperti diskusi Pancasila, untuk berkontribusi pada persatuan bangsa mulai dari lingkungan akademik. Dengan demikian, saya harap bisa menjadi teladan bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya.

Tugas Mandiri 07; Aurel Irza Safira E44

 Ringkasan Pasal-Pasal Kunci UUD 1945 Terkait Sistem Pemerintahan Indonesia  Disusun Oleh:  Aurel Irza Safira  46125010114 E44_Aurel Irza Sa...